Menuntut Ilmu dengan Berdakwah di bidang IPTEK
Surah Al ‘Ashr merupakan sebuah surah dalam Al-qur’an yang banyak dihafal oleh kaum muslimin, karena pendek dan mudah dihafal. Meskipun surah ini pendek akan tetapi memiliki kandungan makna yang sangat banyak. Imam Syafi’i rahimahullah berkata “Seandainya Allah tidak menurunkan suatu hujjah kepada manusia kecuali surah ini, niscaya surah ini telah mencukupi untuk mereka”.
Dalam surah ini, Allah SWT menjelaskan bahwa seluruh umat manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kerugian yang dimaksud misalnya, keadaan manusia yang merugi di dunia dan di akhirat, tidak mendapatkan kenikmatan dan berhak untuk dimasukkan ke dalam neraka (Kitab Tafsir, Karimir Rahman). Kemudian Allah SWT mengecualikan hamba-Nya yang memenuhi 4 sifat yang Allah jelaskan.
Adapun salah satu taklif hukum yaitu adalah menuntut ilmu, beramal dan berdakwah. Jadi, menuntut ilmu salah satu hal yang diwajibkan oleh syara, karena hukum syara. Bukan hanya persoalan senang atau tidak, menguntungkan dan tidak atau hanya untuk bekerja. Bahkan urutan ilmu yang didahulukan syara sudah menjelaskan terkait hal atau ilmu yang paling dibutuhkan saat ini dan perlu didahulukan untuk dicari.
Bahkan
ada orang yang punya ilmu tapi tidak diperbolehkan mengamalkan ilmunya. Seperti
: orang yang mempunyai ilmu sihir, ilmu yang bertentangan dengan hukum syara
(ilmu rentenir, sistem ekonomi di luar Islam, pendidikan yang tidak berasaskan
aqidah Islam).
Begitupun kewajiban berdakwah amar ma'ruf nahi munkar karena hukum syara. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an :
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ … ﴿١١٠﴾
“Kalian adalah umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang
munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS: Ali Imron 110).
Di
dalam ayat ini terkandung beberapa hal; Pertama, umat Islam dikatakan umat
terbaik. Kedua, mulianya umat Islam adalah dengan dakwah. Ketiga, tegak dan
eksisnya umat Islam adalah dengan menjalankan konsep amar ma’ruf nahi munkar.
Di dalam hadits, Rasulullah juga memerintahkan untuk merubahnya saat melihat kemungkaran;
“Barangsiapa diantara kalian yang melihat
kemunkaran, hendaknya dia merubah dengan tangannya, kalau tidak bisa hendaknya
merubah dengan lisannya, kalau tidak bisa maka dengan hatinya, dan yang
demikian adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)
Juga hadits yang diriwayatkan dari Amr bin Ash :
“Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu
ayat” (Hadits Riwayat Bukhari).
A. KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU MENURUT PANDANGAN ISLAM
Salah satu bentuk ibadah adalah tekun menuntut ilmu. Islam akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Begitu pentingnya ilmu dalam Islam hingga diperintahkan melalui Al-Qurán maupun hadis. Dalam satu hadis riwayat Ibnu Majah, menuntut ilmu hukumnya ada yang mengatakan fardhu ain dan fardhu kifayah. Fardhu ain adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk mengerjakannya. Sedangkan fardhu kifayah apabila salah satu sudah mengerjakan maka gugur kewajibannya bagi yang lain. Karena kunci keberhasilan adalah dengan ilmu.
Allah SWT menyuruh seluruh umat muslim menuntut ilmu. Ilmu tidak hanya dibiarkan begitu saja melainkan harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Falsafah ilmu dalam Islam terbagi menjadi tiga bagian yakni mempelajari, mengamalkan, dan mengajarkan. Mempelajari seperti yang telah dibahas sebelumnya hukumnya adalah Fardhu bagi setiap muslim. Mengamalkan juga harus dilakukan karena ilmu yang tidak diamalkan adalah ibarat pohon yang tanpa buah. Ilmu yang sudah dipelajari akan sia-sia dan tidak ada gunanya. Setelah mengamalkan disempurnakan dengan mengajarkan ilmu kepada orang lain. Tujuannya agar dapat membedakan yang benar dan salah dalam kehidupan karena ilmu hakikatnya adalah kebenaran.
Keutamaan ilmu,
belajar dan mengajarkan ilmu sangat penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur'an
juga disebutkan beberapa keutamaan ilmu. Rasulullah SAW bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ
مُسْلِمٍ
Artinya: "Menuntut ilmu itu wajib
bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik
radhiyallahu 'anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami'ish Shaghiir
no. 3913).
B. KEUTAMAAN MENCARI ILMU DALAM AL-QUR’AN
Berikut beberapa keutamaan mencari ilmu
dalam Islam dan dalilnya dari Al Qur'an:
v Orang Berilmu Diangkat Derajatnya
Allah SWT berfirman: "...Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).
Dan Allah SWT berfirman: "Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarKan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". (QS. Al-Mulk : 10).
Allah SWT sudah memberikan banyak
kenikmatan. Jika kita tidak gunakan dengan baik, maka kita akan menjadi salah
satu orang yang merugi. Seperti tercantum dalam surat Al-Mulk ayat 10.
v Orang Berilmu Takut Kepada Allah SWT.
Dalam surat Fatir ayat 28, Allah SWT berfirman: "Dan demikian pula di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya dan jenisnya. Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun."
Ayat ini menjelaskan tentang, dengan ilmu,
seseorang akan lebih memahami bagaimana kehidupan ini diciptakan dan mendalami
pengetahuan tentang kuasa Allah SWT sebagai sang maha pencipta. Orang berilmu
akan takut melakukan hal-hal yang mengandung dosa karena ia memiliki
pengetahuan akan kekuasaan dan juga kebesaran Allah SWT.
v Orang Berilmu akan Diberi Kebaikan Dunia dan Akhirat.
Dalam surat Al-Baqarah [2]: 269, Allah SWT
berfirman: "Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang
Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa
yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.
Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari
firman Allah)."
C. KEUTAMAAN MENCARI ILMU DIBIDANG TEKNOLOGI INFORMASI
Islam memandang penting ilmu pengetahuan dan menjadikannya kunci untuk memimpin peradaban. Oleh sebab itu, wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah berisi perintah untuk belajar (Q.S Al-Alaq [96]:1-5). Nabi Muhammad kemudian membimbing semua sahabatnya menjadi pencinta ilmu seraya berkata “satu bab ilmu yang dipelajari seseorang adalah lebih baik daripada dunia dan segala isinya” (H.R Abu Nuaim). Beliau mewajibkan umatnya untuk mencari ilmu sepanjang hayat dan menyebarkannya walaupun hanya satu ayat (H.R Bukhari).
Islam memperhatikan pentingnya ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam kehidupan manusia. Martabat manusia selain ditentukan oleh peribadatannya juga ditentukan oleh kemampuannya mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Allah juga menyatakan bahwa orang-orang berilmu lah yang takut kepada Allah. Hal ini disampaikan dalam ayat QS.35 (Fathir) 28 :
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ
وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ
عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Artinya : Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hambahambaNya, hanyalah ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam Al-Quran. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan sehingga memperoleh kejelasan. Ilmu adalah pengetahuan yang telah diklasifikasi, diorganisasi, disistematisasi, dan diinterpretasi sehingga menghasilkan kebenaran objektif, sudah teruji kebenarannya dan dapat diuji ulang secara ilmiah. Istilah teknologi merupakan produk terapan dari ilmu melalui pereka-ciptaan membuat sesuatu untuk memenuhi kebutuhan atau kesejahteraan manusia. Dalam sudut pandang budaya, teknologi merupakan salah satu unsur budaya sebagai hasil penerapan praktis ilmu pengetahuan. Teknologi pada kondisi tertentu dapat memiliki potensi merusak dan potensi kekuasaan. Inilah perbedaan dari ilmu pengetahuan dan teknologi.
Salwa Rahmawati (023702011066) Ilmu Komunikasi - Semester 4 Reguler Pagi / AIK 4
Comments
Post a Comment